Kenali Dampak Psikologis dari Putus Cinta

Patah hati, putus cinta, kegagalan cinta atau istilah apapun yang Anda gunakan untuk menyebutnya, merupakan sebuah peristiwa atau kejadian yang tidak pernah diharapkan ada dalm kehidupan Anda.

Hampir semua yang menjalani hubungan dengan lawan jenis berharap bisa berlanjut hingga ke jenjang yang lebih serius atau berlanjut hingga menua bersama.

Terlepas dari apapun penyebab kegagalan dan perpisahan tersebut, Anda akan merasakan berbagai reaksi biologis. Anda akan merasa lemas, jantung berdegup lebih kencang, tidak bersemangat, napsu makan hilang, mudah sakit kepala bahkan hingga kerontokan rambut dan masalah kulit.

Berbagai perasaan pun campur aduk menjadi satu, marah, sakit hati, kecewa, bingung dan lainnya.

Beberapa respon yang disebutkan di atas dalam psikologi cinta disebut Sindrom Patah Hati atau Cardiomyopathy Takotsubo, yang bisa dialami oleh siapapun termasuk mereka yang sedang dalam keadaan sehat. Akan tetapi sindrom ini memang lebih besar dialami oleh wanita dibandingkan pria saat terjadi sebuah perpisahan.

Tahapan Dalam Kesedihan

Seorang Psikiater sekaligus penulis buku On Death and Dying (1969), Dr. Elisabeth Kübler-Ross,  mengembangkan sebuah teori yang dikenal dengan 5 Tahapan Dukacita (The 5 Stages of Grief). Teori ini bermula dari tahapan yang dirasakan ketika kehilangan seseorang karena kematian yang kemudian dikembangan menjadi tahapan yang akan dialami seseorang karena perpisahan.

Penyangkalan (Denial)

Adalah tahapan yang normal atau wajar ketika seseorang menyangkal bahwa suatu kejadian buruk yang ia alami buk

anlah hal yang seharusnya terjadi. Tahapan ini bisa dikatakan sebagai bentuk pertahanan diri sementara yang cukup “membantu” untuk mengurangi rasa sakit dan meredam emosi.

Marah (Anger)

Jika denial merupakan cara yang dilakukan otak untuk melindungi diri, maka marah merupakan pelampiasan emosi dan tahapan lanjutan dari Denial.

Ketika diawal kejadian putus cinta atau kegagalan cinta Anda masih berusaha menyangkal dan tidak dapat menerimanya. Tapi perlahan Anda mulai menyadari yang terjadi dan mulai muncul rasa marah sebagai bentuk pelampiasan kesedihan. Rasa marah tersebut bahkan secara tidak sadar dapat Anda luapkan kepada orang sekitar dan Anda pun menjadi lebih sensitif.

Tawar-menawar (Bergaining)

Setelah selama beberapa lama seorang yang mengalami putus cinta berada di fase Anger, maka mereka akan memasuki fase kompromi di mana mereka berusaha untuk menerima kenyataan.

Wanita, terutama, biasanya akan melakukan berbagai cara agar bisa meminimalisir rasa sakit hati yang merupakan dampak dari putus cinta, salah satunya dengan bergaining.

Contohnya, dia berjanji jika kemudian memiliki pasangan lagi, akan menjadi wanita yang lembut dan sabar.

Dalam tahap bergaining ini biasanya akan ada pengandaian sebagai bentuk rasa bersalah atau sebagai penyesalan, “seandainya dulu aku lebih sabar dan tidak  mudah berburuk sangka, pasti akan…..” dan sebagainya. Ini merupakan bentuk penawaran yang diinginkan atas kejadian yang sudah terjadi.

Depresi (Depression)

Setelah beberapa tahapan di atas, Anda mulai membuka mata dan melihat kenyataan yang terjadi. Anda mulai meratapi kesedihan, penyesalan, menarik diri dari lingkungan dan sebagainya.

Akan tetapi depresi yang dimaksudkan dalam hal ini bukanlah depresi yang merupakan Mental Illness, melainkan di mana seseorang mulai kembali ke kenyataan dan merasa tidak berdaya. Mulai merasakan kesedihan, kesepain, tidak napsu makan, tidak bersemangat, sulit konsentrasi dan cenderung menarik diri.

Penerimaan (Acceptance)

Pada tahap terakhir ini Anda akan merasa lebih pasrah. Bukan karena sudah tidak merasakan kesedihan lagi melainkan Anda mulai berusaha menerimanya dan mulai memperbaikinya.

Anda mulai sadar bahwa apa yang telah pergi tidak akan bisa kembali lagi dan mulai belajar darinya.

Sedikit catatan, Tahapan Kesedihan yang dilalui setiap orang akan berbeda atau tidak sama persis. Bisa jadi Anda melakukan bergaining lebih dulu akan tetapi Anda menyangkalnya setelah itu.

Related Post

Lantas apa saja dampak psikologis dari putus cinta? Apa saja yang terjadi pada otak, hati dan pikiran ketika Anda sedang di fase putus cinta ?

Baca Juga :

Dampak Psikologis dari Putus Cinta

Kadar Dopamine, Oksitosin dan Cortisol

Di dalam otak setiap manusia terdapat senyawa kimia yang disebut hormon. Hormon ini ada banyak sekali macamnya. Dua diantaranya adalah hormon Domapine dan Oksitosin. Kedua hormon ini s-dikenal sebagai hormon bahagia.

Hormon Dopamine ini juga disebut Neurotransmitter yang bertugas mengantar stimulus. Hormon oksitosin yang dikenal sebagai hormon cinta ini berperan dalam mempengaruhi tingkah laku dan interaksi yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kasih sayang.

Ketika sedang jatuh cinta dan sedang bersama dengan orang-orang kita sayang, otak akan banyak memproduksi kedua hormon ini dan membuat kita merasa damai, nyaman dan bahagia.

Sayangnya ketika putus cinta, kedua hormon ini akan turun drastis. Akhirnya sebagai bentuk pertahanan, otak akan mengirimkan signal kepada kelenjar adrenal yang berada di atas ginjal untuk mengeluarkan hormon adrenalin bersamaan dengan Cortisol.

Akibatnya detak jantung akan meningkat tajam sehingga kesehatan organ jantung juga bisa terancam.

Saat Anda merasa sakit hati setelah putus cinta, itu bisa terjadi dikarenakan otak bereaksi terhadap situasi dengan cara yang sama jika Anda terluka secara fisik.

Sindrom Patah Hati

Seperti yang telah disinggung di atas, sindrom yang juga disebut Kardiomiopati Takotsubo adalah gangguan jantung sementara akibat stres. Sindrom ini memicu kontraksi ringan yang menyebabkan sensasi tersedak dan meningkatkan adrenalin.

Beberapa Gejalanya adalah  nyeri dada, sesak napas, detak jantung tidak beraturan, dan tubuh terasa lemas  baru akan pulih dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih satu minggu.

Melemahkan sistem kekebalan tubuh

Putus cinta bukan hanya memberikan pengaruh kepada psikologis tapi juga kepada fisik/tubuh Anda. Ini akan menurunkan sistem imun tubuh Anda dengan melemahkan bagian-bagian tertentu dari tubuh yang bertugas memerangi mikroba penyebab penyakit.

Putus cinta atau patah hati akan menghasilkan sekresi hormon stress yang akan mempengaruhi sistem imun tubuh Anda selama rentang waktu tertentu dan tentu saja ini akan membuat Anda lemah dan menjadi lebih sensitif terhadap penyakit.

Timbulnya masalah kulit

Salah satu penyebab munculnya jerawat adalah tingkat stress yang tinggi. Seperti dikatakan di atas, salah satu dampak psikologis dari putus cinta adalah stress dan tentu saja bagi sebagian orang ini akan menjadi penyebab munculnya jerawat.

Selain menjadi penyebab timbulnya jerawat, stress juga bisa menyebabkan kerontokan rambut. Ini disebabkan produksi hormon saat stress menyebabkan folikel rambut menjadi longgar secara bertahap dan membuat rambut mudah rontok.

Kesimpulan

Meskipun bagi sebagian besar orang, terutama wanita, bukanlah hal yang mudah untuk dapat melewati masa-masa Putus cinta atau patah hati, semua akan bisa dilalu dengan baik jika Anda bisa berbagi atau sharing kepada orang terdekat yang Anda anggap akan bisa mengerti dan memberikan Anda dukungan.

Selain itu Anda juga bisa menggunakan waktu Anda untuk melakukan hal-hal yang Anda senangi seperti travelling, membaca buku, hang out bersama teman-teman atau pun sekedar menonton film secara daring di rumah.

Yang terpenting adalah tidak berlarut-larut dan segera konsultasikan masalah Anda kepada tenaga ahli jika Anda rasa kesulitan dalam mengatasinya.

Ratih Muliasari: